Wajah Baru Tumapel

Kali ini saya akan menuliskan kisah terakhir dari Roman Arok Dedes yang di warnai dengan intrik politik yang di susun secara rapi. Bagaimana seorang sudra berwatak ksatria dan berhati brahmana seperti Arok berhasil menggulingkan tahta Akuwu Tumapel yang di dukung oleh kerajaan besar Kediri. 

Arok berhasil menangkap Empu Gandring dan Balakangka yang merupakan pandita Kediri untuk Tumapel. Hanya tersisa Kebo Ijo, Kebo Ijo bersama pasukannya datang menuju Tumapel, ia mendapati sang Akuwu berada di bilik pendopo sedang mabuk. Kebo Ijo keluar bilik dengan pedang yang sudah bermandikan darah. Atas perbuatannya, Kebo Ijo di hukum oleh Arok dan Parameswari. Namun, ia tetap tidak mengakui bahwa ia telah membunuh Tunggul Ametung yang dalam keadaan mabuk. 

Tumapel sudah di kepung oleh pasukan Arok yang berperang secara sembunyi, termasuk pasukan dari Rimang yang merupakan adik angkatnya sekaligus istrinya. Ketika Umang memperkenalkan dirinya di hadapan semua orang bahwa ia adalah istri dari Arok, Ken Dedes tak dapat menyembunyikan perasaan sedihnya. Dedes penuh dengan kesedihan hingga tak dapat menahan tangisnya. Di tambah lagi ayahnya, Mpu Parwa tak mau mengakui ia sebagai anaknya. 

Tumapel memiliki pemimpin baru, yang awalnya akan di teruskan oleh Parameswari Dedes tapi nyatanya Arok lah yang maju sebagai Sang Akuwu. Perasaan Dedes tak menentu, ia tak tahu lagi harus bagaimana. Seperti kehilangan kekuasaan dan patah hati yang luar biasa, mengetahui satu-satunya lelaki yang ia cintai telah memiliki wanita lain. Tumapel memiliki Akuwu baru yaitu Arok dan memiliki dua parameswari, Ken Dedes dan Umang. 

Dari cerita Arok Dedes, hikmah apa yang bisa di ambil? Tuliskan di kolom komentar ya. 
Terimakasih sudah membaca.

Komentar

Posting Komentar