Menghargai hasil atau proses?

Pekan pertama belajar di tahun 2023. Siswa Safin Pati Sports School kembali melanjutkan aktivitas yang sama seperti tahun sebelumnya. Tentu saja, aktivitas sama namun semangatnya berbeda. Saya sendiri cukup bangga dan optimis dengan siswa-siswa kami, saya lihat banyak perubahan dari sebelumnya terutama tahun lalu. Sebelum liburan, mereka mendapatkan tugas untuk membawa 2 novel ketika kembali ke sekolah, sebagian besar siswa sudah membawa 2 novel walaupun ada yang masih membawa 1, namun mereka berusaha untuk menambah 1 novel lagi dengan membeli via online. Selain perihal novel, yang saya lihat adalah ketepatan siswa kembali ke asrama. Di awal sudah disampaikan bahwa siswa harus kembali ke asrama tanggal 7 atau 8, sebagian siswa sudah ada di asrama ditanggal tersebut, berbeda dengan tahun sebelumnya yang masih banyak siswa yang masih molor

Selanjutnya, yang membuat saya antusias adalah tanggapan kelas 8 melihat suasana baru di kelasnya. Hehe, walaupun masih banyak kekurangan namun saya melihat mereka cukup antusias dengan wajah baru ruang belajarnya. Ada yang bilang, wah foto saya tidak ada Miss atau papan informasinya ketinggian. Ada juga yang sedang mengerjakan tugas kesenian dari Pak Bayu dan ingin nanti hasil karyanya di tempel di kelas. Menurut saya, mereka sudah antusias untuk menghias kembali kelas mereka dengan ide-ide mereka sendiri. Dengan mengikutsertakan karya mereka, saya yakin akan menumbuhkan rasa memiliki di dalam kelas tersebut, sehingga mereka akan merasa nyaman dan menjaga ruangan tempat mereka belajar. 

Sebelum liburan, anak-anak sudah melaksanakan projek sains. Dalam projek tersebut ada beberapa agenda, agenda sebelumnya yaitu membuat komposting, tentu saja dengan memanfaatkan sampah organik. Agenda setelah liburan yaitu memanfaatkan sampah anorganik untuk membuat hiasan di kelas. Wah, masih seputar dekor mendekor kelas ya. Saya memilih memanfaatkan sendok plastik bekas geprek yang biasanya menumpuk di tempat sampah. Saya minta anak-anak mengumpulkan sendok plastik setelah mereka pakai atau meminta dari siapa saja yang membeli geprek. Saya juga menerima sendok dari Bu Dwi, kebetulan dirumah Bu Dwi mempunyai sendok plastik yang tidak terpakai. Dalam proses pembuatannya, siswa dibagi menjadi 5 kelompok. Saya membagi kelompok seperti yang dilakukan Bu Capri saat training hari ketiga, yaitu memilih 5 anak maju kemudian mereka memilih anggota kelompoknya. Saya amati, ketua kelompok sudah bertanggungjawab dan bisa mengatur anggota nya, tentu saja masih ada beberapa anak yang harus ditegur dulu kemudian ikut bekerjasama dengan temannya. 

Hasil nya, 5 hiasan kelas sudah jadi, namun minggu depan bisa ditambah lagi sesuai dengan kreatifitas mereka. Bagus tidaknya hasil nomor dua, namun proses mereka membuat karya tersebut yang harus dihargai. Terimakasih anak-anak mari sama-sama kita belajar menghargai proses. 

Tetap semangat, :)

Komentar

  1. Alhamdulillah ikut senang membacanya, menghargai proses bukan hasil😍👍

    BalasHapus
  2. Sepakat mengjargai proses lebih penting, 😀

    BalasHapus
  3. Hargai proses, tapi tetap memberikan saran untuk improve

    BalasHapus
  4. Aku salute dengan kerja keras Bu Mila dan Anak anak kelas napaled

    BalasHapus
  5. Wahh keren. Karya anorganik tipe dekoratif oleh siswa yang notabenya anak bola

    BalasHapus

Posting Komentar