Salah siapa?
Kanjuruhan, 1 Oktober 2022, tepatnya hampir tengah malam terjadi peristiwa yang mungkin akan susah dilupakan oleh bangsa ini. Bagaimana tidak, derby Persebaya dan Arema berakhir ricuh bahkan menewaskan ratusan orang.
Kenapa bisa terjadi? Siapa yang salah? Apa dampaknya? Apa solusinya?
Pertanyaan tersebut mungkin ada dikepala hampir semua insan yang menyaksikan berita Kanjuruhan.
Terdapat berbagai opini dalam kasus Kanjuruhan.
Kronologi kerusuhan tersebut dimulai suporter Arema turun ke lapangan setelah pertandingan selesai kemudian di ikuti oleh suporter yang lain. Melihat suporter yang turun ke lapangan, aparat kepolisian pun menghalau dengan menyemprotkan gas air mata. Dari situlah suporter yang lain mulai panik menuju ke pintu keluar, namun pintu keluar di kunci. Karena berdesakan banyak yang jatuh terinjak, pingsan dan sesak napas.
Suporter Arema menegaskan bahwa turunnya mereka ke lapangan bukan untuk memicu kerusuhan atau tidak terima dengan kekalahan melainkan ingin memberikan dukungan kepada para pemain. Kemudian aparat melakukan penyemprotan gas air mata yang sudah jelas dilarang oleh FIFA.
Sejauh ini, ada 6 tersangka yang di tetapkan oleh Kaporli, yaitu :
1. Direktur PT. LIB yang bertanggungjawab semua stadion memiliki sertifikasi dan layak fungsi. Namun stadion Kanjuruhan dianggap tidak memenuhi layak fungsi.
2. Ketua Panpel, mengabaikan keamanan dengan menjual tiket overcapacity.
3. Security Officer, tidak membuka pintu 5 menit sebelum pertandingan berakhir.
4. Kabagops Polres Malang, mengetahui larangan penggunaan gas air mata, namun tidak melarang.
5. Anggota Polri, memerintahkan petugas menembakkan gas air mata.
6. Kasat Samapta Polres Malang, memerintahkan anggota menembakkan gas air mata.
(sumber : Merdeka.com)
Terlepas dari siapa yang salah. Kejadian tersebut seharusnya membuat semua pihak intropeksi diri dan mengakui kesalahan.
Suporter yang seharusnya memberikan dukungan penuh kepada tim, bukan hanya memberikan dukungan ketika menang laga dan ngamuk ketika kalah. Panpel yang seharunya memikirkan keselamatan para penonton, bukan hanya keuntungan semata. Aparat yang seharusnya mengerti aturan, mana yang boleh dan tidak boleh digunakan. Federasi tertinggi sepakbola yang seharusnya paham bagaimana tingkatan dibawahnya bekerja.
Kejadian Kanjuruhan bukan lagi masalah sepakbola melainkan masalah kemanusiaan yang meninggalkan duka mendalam bagi rakyat Indonesia. Bukan hanya satu orang atau dua orang, namun sudah merenggut ratusan nyawa.
Tanggungjawab moral diperlukan untuk menyelesaikan dan mencegah kejadian seperti ini agar tak terulang lagi.
Bagaimana mendidik siswa kita agar memiliki tanggung jawab moral dalam kehidupan sehari-hari?
BalasHapus6 tersangka dengan apa yang dilakukan bisa menjadikan pembelajaran untuk melakukan segala sesuatu sesuai dengan prosedur, dan paham apa yang diakukan dan juga dampaknya. Karena nyawa tak ada bandingnya denga apapun
BalasHapusSekali lagi masih untung karena tidak disanksi FIFA, tapi kejadian ini sangat disesalkan,
BalasHapusBersalah tapi susah mengakui kesalahan, hal itu kerap terjadi di Indonesia
BalasHapusYang salah ada ego masing-masing
BalasHapusjangan saling menyalahkan ambil pembelajaran dari kejadian ini
BalasHapusHarus introspeksi masing-masing sih, supaya kejadian yang serupa tidak terjadi lagi. Sayang, nyawa melayang begitu saja
BalasHapus