Nakalkah?

Kemajuan teknologi merupakan salah satu aspek perubahan sosial yang tidak bisa dihindari dalam dewasa ini. Salah satu dampak positif kemajuan teknologi adalah munculnya situs atau platform menonton secara online. Jadi, masyarakat semakin di mudahkan dengan banyak pilihan akses menonton selain televisi dan bioskop. 

Sebelum tidur, saya membuka salah satu layanan menonton. Saya selalu menyukai sebuah sinema yang berlatar abad 19. Menyukai bagaimana pakaian dan arsitektur yang digambarkan pada zaman itu. 

Serial Anne With an E menarik perhatian saya, awalnya saya tertarik hanya karena sampulnya menggambarkan zaman favorit saya. 

Serial tersebut menceritakan seorang gadis yatim piatu berusia sekitar 14 tahun bernama Anne. Awalnya Anne hidup dipanti asuhan kemudian diadopsi oleh keluarga yang memiliki banyak anak. Iya, seperti yang kalian bayangkan, Anne dijadikan pembantu dengan berkedok diadopsi. Karena keterbatasan ekonomi akhirnya Anne dikembalikan ke panti asuhan, sampai pada akhirnya kemudian Anne di adopsi oleh keluarga Butcher, bukan sepasang suami istri namun kakak beradik yang tak memiliki pasangan. 

Anne menjalani kehidupan selayaknya anak seusianya. Dia bersekolah bersama teman-teman barunya dan tentu saja tidak berjalan mulus. Anne tak pandai mengelola perasaannya, selain itu dia juga tidak paham apa yang harus dan tak harus diceritakan kepada teman-temannya. 

Teman Anne menganggap bahwa Anne adalah gadis yang tidak memiliki attitude yang bagus. 
Tentu saya hal tersebut membuat para orang tua khawatir. 

Sebenarnya, Anne adalah anak yang cerdas dengan imajinasi yang luar biasa. Dia bukan anak dengan kepribadian yang buruk, Anne hanya tak pernah diajari bagaimana cara mengekspresikan perasaannya.

Kemudian saya berpikir, ketika siswa saya ada yang melakukan hal-hal yang tidak sesuai, apakah sebenarnya mereka belum tahu cara mengelola perasaan atau tindakannya? Bukan karena mereka sengaja melakukan kesalahan? 

Saya perlu banyak belajar terkait hal ini. 

Bagaimana cara mengendalikan siswa dengan segala perasaannya yang kadang tidak sesuai dengan norma yang ada?


Komentar

  1. Kalau sudah diajari mengelola perasaan dan bersikap, tetapi masih saja mencoba mencoba (melakukan hal tak sesuai norma) apakah bisa disebut nakalkah?

    BalasHapus
  2. Kita semua murid, apapun yg ditemui itu guru, semesta ini adalah kelas. Tak ada kata "tidak pernah diajari", yg ada mungkin belum mau saja

    BalasHapus
  3. Karena serial mengontrol emosi tidak pernah diajarkan di bangku sekolah

    BalasHapus
  4. Pelajaran non akademik ada di kurikulum ngumpet, hehe

    BalasHapus
  5. Terkadang mereka ingin diperhatikan lebih

    BalasHapus
  6. Bagaimana cara mengendalikan siswa dengan segala perasaannya yang kadang tidak sesuai dengan norma yang ada?


    Caranya ya mencoba memposisikan diri kita menjadi orang tua kita, lalu jangan moody an :p

    BalasHapus

Posting Komentar